Jakarta, 24 September 2026 — Performa terbaik tidak hanya dibangun lewat latihan, tetapi juga dari bagaimana tubuh dipersiapkan, dijaga, dan dipulihkan. Physiorehab hadir di tengah meningkatnya kebutuhan rehabilitasi secara global. Fisioterapi memiliki peran yang semakin penting dalam membantu mempertahankan kemampuan bergerak dan menjalani aktivitas secara optimal. World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 2,4 miliar orang di dunia memiliki kondisi yang dapat memperoleh manfaat dari rehabilitasi. Bagi atlet yang menghadapi intensitas latihan dan kompetisi yang tinggi, fisioterapi menjadi bagian penting untuk menjaga kesiapan fisik sekaligus mendukung perjalanan menuju performa terbaik. Berangkat dari peran tersebut, Physiorehab mendampingi 12 atlet Tim Tenis Meja Indonesia dalam persiapan menuju perhelatan pesta olahraga Asia 2026 di Aichi-Nagoya.

Physiorehab adalah klinik fisioterapi yang berfokus pada pemulihan, pencegahan cedera, dan peningkatan performa melalui pendekatan evidence-based dengan memadukan manual therapy, exercise, dan teknologi pendukung. Didukung oleh fisioterapis profesional dan berpengalaman, Physiorehab telah melayani lebih dari 20.000 pasien melalui 100.000 sesi terapi. Program khusus bagi tim atlet tenis meja berlangsung dari 10 Agustus hingga 17 September 2026. Selama periode tersebut, Physiorehab menjalankan program treatment, recovery, dan strengthening di klinik cabang Gandaria, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari persiapan fisik para atlet sebelum mereka bertolak ke Jepang pada Kamis, 17 September 2026.

“Physiorehab hadir di Indonesia sebagai pusat fisioterapi untuk mendampingi perjalanan pemulihan dan performa setiap orang, sehingga kami tidak hanya berfokus pada penanganan cedera. Dukungan kami untuk mempersiapkan para atlet nasional yang akan membawa nama Indonesia ke kancah internasional merupakan wujud nyata komitmen Physiorehab di dunia olahraga di tanah air, sekaligus bagian dari visi jangka panjang Physiorehab untuk terus hadir di setiap tahap perjalanan seseorang menuju versi terbaik dirinya,” ujar Adam Salim, Founder and CEO Physiorehab. 

Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik para atlet agar tetap optimal di tengah intensitas latihan dalam persiapan menuju kompetisi. Bersama tim pelatih nasional, Anton Suseno dan Yon Mardiyono, Physiorehab memberikan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing atlet, mencakup treatment, recovery, mobility, serta strengthening untuk membantu menjaga kesiapan fisik mereka. Sebagai olahraga dengan tempo tinggi, tenis meja menuntut kecepatan reaksi, perubahan arah yang eksplosif, serta gerakan repetitif pada pergelangan tangan, bahu, dan pinggang, kondisi yang membuat atlet rentan mengalami overuse injury apabila tidak diimbangi dengan program recovery dan strengthening yang tepat.

“Persiapan menuju pesta olahraga terbesar di Asia ini tentu membutuhkan kondisi fisik yang optimal karena atlet menjalani rangkaian latihan dengan intensitas tinggi. Pendampingan dari Physiorehab membantu kami dalam menjaga kondisi fisik para atlet selama Training Camp, sehingga latihan dapat berjalan dengan baik dan atlet dapat lebih siap menghadapi kompetisi,” ujar Anton Suseno, pelatih Tim Tenis Meja Indonesia. 

Bagi Physiorehab, recovery merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang atlet. Persiapan menuju kompetisi tidak hanya berbicara tentang latihan dan peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga tentang bagaimana seorang atlet menjaga kondisi tubuhnya melalui recovery setelah aktivitas fisik, serta membangun kekuatan untuk menghadapi tuntutan latihan dan pertandingan. Pendekatan ini merupakan bagian dari layanan Sports Injury Recovery Physiorehab yang ditangani langsung oleh tim fisioterapis bersertifikat dan berpengalaman di seluruh 16 klinik Physiorehab yang tersebar di Indonesia, termasuk di berbagai lokasi, seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Surabaya, dan Medan.

“Secara teknis, program Physiorehab yang kami berikan mencakup asesmen kondisi fisik secara berkala, manual therapy untuk mengatasi ketegangan otot dan sendi, hingga program strengthening pada area bahu, pergelangan tangan, dan pinggang yang menjadi titik tumpu utama dalam gerakan tenis meja. Seluruh pendekatan ini kami sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing atlet agar tubuh mereka siap menghadapi intensitas latihan dan kompetisi,” ujar Simon Tri Prasetyo, Chief Physiotherapist Physiorehab.

Selama periode Physiorehab Training Camp (TC), rangkaian penanganan yang diberikan meliputi asesmen kondisi fisik secara berkala, manual therapy untuk mengatasi ketegangan otot dan sendi, program strengthening pada area bahu, pergelangan tangan, serta pinggang yang menjadi titik tumpu utama dalam gerakan tenis meja, hingga latihan mobilitas dan stabilitas untuk mendukung kecepatan footwork atlet di lapangan.

Program pendampingan ini melibatkan 12 atlet nasional, yaitu Muhammad Bima Abdi Negara, Muhammad Naufal Junindra Irawan, Gusti Syaiful Desrizal, Affan Mauladana Pratama, Muhammad Kahfi Inzaghi, Braydon Juvensim Susilo, Citra Rasmi, Almaira Nebuchadnezzar, Cindy Marcella Putri, Komang Anik Sudarnita, Ni Ketut Devinta Maharani, dan Siti Aminah.

Keikutsertaan mereka dalam pesta olahraga Asia 2026 ini menjadi salah satu milestone penting dalam perjalanan mereka sebagai atlet. Namun, bagi Physiorehab, pendampingan terhadap atlet tidak berhenti pada satu ajang kompetisi. Physiorehab terus berkomitmen untuk membangun hubungan jangka panjang dengan para atlet, dengan mendukung berbagai tahap perjalanan mereka, mulai dari preparation, recovery, strengthening, hingga kembali menjalani latihan dan mengejar performa terbaik. Komitmen ini bukan hal baru bagi Physiorehab. Sebelumnya, Physiorehab juga telah menjadi mitra pemulihan bagi sejumlah atlet profesional dari berbagai cabang olahraga, termasuk atlet basket profesional, dalam menangani cedera hingga mengembalikan performa terbaik mereka di lapangan.

“Ajang olahraga terbesar di Asia ini merupakan salah satu milestone dalam perjalanan mereka, tetapi perhatian terhadap kondisi fisik atlet perlu terus berlanjut setelah kompetisi selesai. Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan jangka panjang tersebut, baik ketika atlet sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi, melakukan recovery setelah bertanding, maupun ketika mereka kembali membangun kekuatan untuk menghadapi tantangan berikutnya,” tambah Simon.

Dengan keberangkatan Tim Tenis Meja Indonesia ke Jepang, Physiorehab berharap seluruh atlet dapat membawa hasil dari rangkaian persiapan dan pendampingan selama Training Camp menuju panggung Asia 2026 di Aichi-Nagoya, sekaligus memperkuat perannya sebagai partner recovery dan performance bagi atlet Indonesia dalam proses jangka panjang untuk terus bergerak, berkembang, dan mencapai performa terbaik. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi physiorehab.id dan ikuti media sosial @physiorehab.id.