Jakarta, 16 September 2026 — Kita bisa mengenali wajah seseorang hanya dalam hitungan detik, tetapi apakah itu berarti kita benar-benar mengenalnya? Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pintu masuk Rajata Hakim, seniman multidisipliner muda Indonesia berusia 22 tahun, dalam pameran tunggal perdananya, “Terlihat / Terasa”, yang mengajak publik untuk melihat kembali hubungan antara apa yang tampak di hadapan mata, apa yang dirasakan, dan apa yang sebenarnya kita pahami tentang orang lain.
Berlangsung di ArtSphere Gallery, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, hingga 27 September 2026, pameran yang dikuratori oleh Melissa Sunjaya dan menjadi bagian dari Project 1830 ini menghadirkan 63 dari total 150 potret orang asing yang dilukis oleh Rajata menggunakan cat akrilik pada kertas kalkir berukuran A4. Seluruh 150 potret sebelumnya ditampilkan secara utuh dalam pameran 1830 di Taman Ismail Marzuki (TIM), sementara ruang pameran di ArtSphere kali ini menghadirkan 63 di antaranya. Wajah-wajah tersebut hadir berdampingan dengan karya lain di atas kanvas, kayu, tas, medium transparan, hingga instalasi, membentuk sebuah eksplorasi tentang persepsi, ingatan, emosi, dan memori kolektif.
Bagi Rajata, wajah bukan sekadar objek yang dapat diamati. Semakin lama seseorang diperhatikan, semakin terlihat pula keterbatasan manusia dalam mengubah pengamatan menjadi pemahaman. Karena itu, ia tidak berusaha membuat potret yang sepenuhnya menjelaskan siapa seseorang, melainkan membiarkan ketidakpastian tetap menjadi bagian dari karya.
“Saya tertarik pada titik ketika memandang mulai terasa seperti mengetahui, padahal kita kerap keliru menganggap keduanya sama. Semakin saksama saya mengamati seseorang, semakin saya menyadari bahwa perhatian tidak serta-merta melahirkan pemahaman. Keterbatasan tersebut justru saya biarkan membentuk karya,” ujar Rajata Hakim.
Pengalaman melihat dalam “Terlihat / Terasa” kemudian diperluas melalui suara. Sejumlah potret dipasangkan dengan rekaman suara pribadi dari para partisipan yang mendeskripsikan diri secara anonim. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya berhadapan dengan wajah yang dibuat oleh seniman, tetapi juga dengan suara orang yang menjadi subjeknya. Perbedaan antara apa yang terlihat dan bagaimana seseorang mendefinisikan dirinya sendiri menciptakan ruang bagi pertanyaan: ketika kita melihat orang lain, apakah yang sebenarnya sedang kita lihat adalah mereka atau interpretasi kita sendiri?
Eksplorasi tersebut juga hadir dalam karya yang mengangkat sosok Pangeran Diponegoro. Alih-alih menampilkan wajahnya secara utuh, Rajata sengaja menyamarkan wajah figur sejarah tersebut dan membiarkan identitasnya menjadi sebuah enigma. Pengunjung diberikan ruang untuk menebak dan membentuk interpretasi sendiri terhadap sosok yang digambarkan sedang menunggangi kuda putih.
“Saya sengaja menyamarkan wajah Diponegoro karena saya ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah identitas yang biasanya kita anggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat. Biar publik menebak sendiri sosok yang menunggang kuda jingkrak berwarna putih itu siapa,” kata Rajata Hakim.

Pendekatan tersebut berangkat dari ketertarikan Rajata terhadap arsip dan memori, sekaligus keterlibatannya dalam Project 1830 yang memberinya cara untuk memahami praktik berkaryanya melalui konsep amongraga dan amongrasa. Baginya, amongraga berkaitan dengan disiplin yang diperlukan untuk memberikan bentuk lahiriah pada sebuah gagasan, sementara amongrasa merupakan penghayatan batin yang memberikan makna pada bentuk tersebut. Praktik Rajata bergerak di antara keduanya: tangan memberikan bentuk, sementara rasa menentukan apakah bentuk tersebut masih setia pada pengalaman yang melahirkannya.
“Rajata tidak mencoba menghadirkan masa lalu atau seseorang sebagai sesuatu yang sudah selesai dan dapat dipahami sepenuhnya. Justru melalui keterbatasan pengamatan itu, karya-karyanya membuka pertanyaan tentang bagaimana kita membangun pengetahuan, bagaimana kita mengarsipkan, dan bagaimana pengalaman personal akhirnya ikut membentuk memori kolektif,” jelas Melissa Sunjaya, kurator “Terlihat / Terasa”.
Dalam karya-karyanya, Rajata juga mempertahankan elemen-elemen yang menolak penyempurnaan, seperti tepian yang dibiarkan terbuka dan guratan yang masih menyimpan ketidakpastian. Baginya, ketidaksempurnaan bukan efek visual yang sengaja ditambahkan, melainkan jejak dari proses penciptaan yang masih menyimpan kerentanan sebelum sebuah bentuk mencapai kepastian.
“Saya tidak berkarya untuk menuntaskan suatu pengalaman atau melindunginya dari kemungkinan menghilang. Saya berkarya untuk tinggal bersamanya cukup lama hingga kompleksitasnya dapat dikenali, sekaligus menyisakan ruang bagi orang lain untuk menemukan sesuatu dari dirinya sendiri di dalam karya tersebut,” ungkap Rajata Hakim.
Praktik lintas medium Rajata berkembang dari pengalaman personal dan pengamatan terhadap orang lain, dengan ketertarikan pada arsip, memori, kegembiraan, keintiman, dan kerentanan manusia. Setelah menempuh pendidikan di Tanglin Trust School, Singapura, Rajata mempelajari seni rupa selama satu tahun di University of British Columbia, Kanada, dan meraih predikat Dean’s List. Saat ini, ia melanjutkan pendidikan di BINUS University.
Persinggungannya dengan dunia olahraga juga menjadi bagian dari perjalanan Rajata. Ia pernah mewakili Indonesia dalam cabang olahraga bola basket dan beberapa kali meraih penghargaan MVP. Disiplin dari dunia atletik dan intuisi dalam praktik seni kemudian bertemu dalam cara Rajata bekerja terstruktur dalam proses, tetapi tetap terbuka terhadap kemungkinan yang muncul ketika material dan pengalaman mulai menemukan bentuknya.
Melalui “Terlihat / Terasa”, Rajata tidak hanya mengajak pengunjung untuk melihat lebih dekat 63 wajah yang memenuhi ruang galeri ArtSphere ini. Ia mengajak publik mempertanyakan kembali kebiasaan yang sering dilakukan tanpa disadari: menilai seseorang dari wajahnya, menganggap pengamatan sebagai pengetahuan, dan memperlakukan apa yang terlihat sebagai kebenaran.
Pameran tunggal perdana Rajata Hakim, “Terlihat / Terasa”, masih berlangsung hingga 27 September 2026 di ArtSphere Gallery, lantai 2 Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, dan terbuka untuk umum.






