Jakarta, 7 Oktober 2026 — Cedera menjadi salah satu tantangan dalam aktivitas fisik bagi masyarakat Indonesia, terutama yang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi. Riset yang dilakukan di Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) Jakarta menunjukan bahwa terdapat sekitar 25,1% remaja yang mengalami sedikitnya satu cedera selama periode observasi. Hal ini menunjukkan 1 dari 4 orang Indonesia beresiko mengalami cedera saat melakukan aktivitas fisik yang intensif. Physiorehab hadir menjawab permasalahan tersebut serta memperluas akses layanan fisioterapi dan rehabilitasi melalui pembukaan cabang terbaru di Meruya, Jakarta Barat. Pendekatan evidence-based physiotherapy and rehabilitation menjadi bagian dari layanan di cabang ini, dengan fokus pada pemulihan dan optimalisasi fungsi gerak agar pasien dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari, berolahraga, maupun pencapaian target fisik sesuai kondisi dan kebutuhan individu.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari layanan Physiorehabmelalui proses assessment, treatment, exercise, dan monitoring progress. Program dapat mencakup terapi manual berbasis sains, latihan, peregangan, dan penggunaan modalitas maupun teknologi yang relevan, dengan rencana terapi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.
Fisioterapi sendiri merupakan bagian dari perjalanan seseorang untuk mempertahankan, mengembalikan, dan mengoptimalkan fungsi tubuh. Karena itu, proses terapi tidak hanya berfokus pada penanganan keluhan, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap kondisi pasien, latihan yang sesuai, edukasi, serta pemantauan perkembangan secara berkala. Pendekatan berbasis latihan juga memiliki relevansi dalam rehabilitasi kondisi muskuloskeletal. Sebuah meta-analysis terhadap 27 randomized controlled trials dengan total 1.927 peserta menemukan bahwa exercise berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup pada individu dengan nyeri muskuloskeletal.
Perluasan jaringan ini juga diikuti dengan upaya menjaga konsistensi standar layanan di setiap cabang melalui pengembangan tim dan berbagi pengetahuan antar-fisioterapis. Upaya tersebut turut didukung oleh jejaring profesional kesehatan yang telah dibangun Physiorehab, termasuk rujukan dari sejumlah rumah sakit di Singapura dan Penang serta kepercayaan dari beberapa dokter spesialis di Indonesia. Hal ini menjadi bagian dari upaya Physiorehab untuk memastikan perluasan akses tidak hanya membuat layanan lebih dekat, tetapi juga tetap didukung standar pelayanan yang konsisten di setiap lokasi. Dengan jaringan yang semakin luas, masyarakat dapat memilih lokasi Physiorehab yang lebih dekat dengan rumah, tempat kerja, maupun aktivitas mereka, tanpa harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan fisioterapi dan rehabilitasi.
“Kehadiran Physiorehab Meruya merupakan komitmen kami dalam mendukung akses layanan fisioterapi untuk masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Jakarta Barat. Physiorehab Meruya merupakan cabang ke 13 dan merupakan langkah strategis kami dalam pengembangan layanan fisioterapi di Indonesia. Di saat yang sama, setiap ekspansi tetap kami arahkan untuk menjaga pengalaman pasien dan kualitas layanan yang menjadi bagian dari perjalanan Physiorehab,” ujar Adam Salim, CEO and Founder Physiorehab.
Di cabang Meruya, layanan didukung oleh tim fisioterapis dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi profesional di bidang fisioterapi dan rehabilitasi. Setiap program disusun berdasarkan hasil assessment untuk menyesuaikan jenis terapi dan latihan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing pasien. Layanan fisioterapi dan rehabilitasi mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari nyeri punggung dan pinggang, neck pain, HNP, cedera olahraga, knee pain, shoulder pain, rehabilitasi pascaoperasi, cedera ACL, plantar fasciitis, hingga gangguan gerak dan keseimbangan. Fasilitasnya dilengkapi rehabilitation gym dan modern equipment, ruang perawatan privat, serta personalized treatment plan dan progress monitoring.

Bagi fisioterapis, pendekatan evidence-based juga berarti memahami bahwa proses rehabilitasi perlu disesuaikan dengan kondisi dan tujuan setiap individu. “Setiap pasien memiliki kondisi, aktivitas, dan target yang berbeda. Karena itu, fisioterapi perlu dimulai dengan memahami individu secara menyeluruh. Dari sana, fisioterapis dapat menentukan pendekatan terapi dan latihan yang relevan, kemudian memantau perkembangannya. Tujuannya adalah membantu pasien mengembangkan kembali fungsi gerak, mendukung proses pemulihan, meningkatkan kapasitas fisik, dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih optimal,” kata Simon Tri Prasetyo, Founder and Chief Physiotherapist Physiorehab.
Pembukaan cabang Meruya menjadi bagian dari langkah Physiorehab dalam mendekatkan layanan fisioterapi kepada lebih banyak masyarakat di Indonesia. Dengan visi mendukung masyarakat dalam perjalanan pemulihan serta menghadirkan ruang pemulihan fisik yang profesional dan nyaman, Physiorehab kini telah melayani lebih dari 20.000 pasien melalui 100.000 sesi terapi, dan menargetkan kehadiran di 16 klinik hingga akhir 2026.
Cabang Meruya memiliki luas sekitar 340 meter persegi dengan 10 bed perawatan. Sebelum grand opening, Physiorehab juga menggelar soft opening melalui kegiatan Fun Run bersama 910 Community pada 3 Oktober 2026. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Physiorehab dan layanan yang tersedia, kunjungi www.physiorehab.id dan ikuti Instagram @physiorehab.id.






