Jakarta, 12 Mei 2026 – Great Place To Work® (GPTW) ASEAN & ANZ, bersama majalah Fortune, resmi merilis Fortune 100 Best Companies to Work For™ untuk regional Asia Tenggara edisi perdana — pemeringkatan tempat kerja terluas di kawasan yang melibatkan lebih dari 550.000 karyawan di sepuluh negara Asia Tenggara, dengan lebih dari 1,3 juta pekerja yang diminta menilai tingkat kepercayaan, keadilan, dan dukungan di tempat kerja mereka.
Daftar ini disusun berdasarkan Trust Index™ Survey GPTW yang bersifat rahasia — bukan atas dasar employer branding atau submisi perusahaan. Dari Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menjadi salah satu dari hanya dua perusahaan yang berhasil masuk, di tengah konteks yang membuat pencapaian ini terasa lebih bermakna: IOH baru saja menjalani proses merger besar yang lazimnya ditandai gelombang pengunduran diri dan guncangan organisasi. IOH justru mencatat bahwa seluruh talenta/karyawan dapat menerima proses integrasi/merger dengan baik, tanpa tingkat turnover yang signifikan pada posisi strategis, serta turut diiringi pertumbuhan EBITDA yang kuat.
Sebagai gambaran produktivitas karyawan di Indonesia, fenomena presenteeism atau hadir tapi tidak benar-benar terlibat, dengan persentase sekitar 41,2% yang mengindikasikan karyawan datang ke tempat kerja tapi tidak sepenuhnya fokus atau produktif. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat absenteeism (ketidakhadiran karyawan di tempat kerja) yang hanya 7,69%. Guna mengatasi kondisi ini, benefit dan upaya bagi kesejahteraan mental karyawan saja tidak cukup. Perusahaan perlu melakukan pendekatan yang lebih terencana dan terintegrasi dalam membangun kesejahteraan karyawan, seperti upaya Indosat selama ini, yang mulai mendapat pengakuan secara regional.
Lisa Qonita, SVP Head of People & Culture Indosat, menceritakan bahwa program dukungan kesehatan mental perusahaan awalnya sepi peminat. “Kami menyebutnya sebagai ‘dukungan kesehatan mental’, saat itu tingkat partisipasinya terbatas karena adanya stigma. Begitu kami memposisikannya sebagai instrumen peningkatan kinerja dan manajemen energi, maka tingkat partisipasi karyawan pun meningkat,” ujar Lisa.
Di Asia Tenggara, karyawan lebih terbuka pada program yang diposisikan sebagai penunjang performa, dan cenderung menghindari hal-hal yang memberi kesan mereka tidak mampu menghadapi tekanan. hal ini menegaskan bahwa merancang program kesejahteraan di Asia Tenggara tidak bisa lepas dari pemahaman konteks budaya, bukan hanya mengacu pada standar tertentu.
Strategi Indosat juga tidak berhenti pada satu program. Perusahaan menunjuk perwakilan karyawan di setiap direktorat untuk berperan aktif dalam program ini. Mereka mendapat akses lebih awal ke berbagai program, mulai dari interaksi langsung dengan manajemen, serta rutin menyampaikan masukan dari tim. Selain itu, ada forum town hall terbuka, platform khusus wellness, hingga berbagai aktivitas lintas fungsi sepanjang tahun untuk menjaga kekompakan selama perusahaan mengalami proses restrukturisasi. Semua ini dirancang sebagai satu sistem yang saling terhubung
“Kami menempatkan karyawan sebagai pusat bisnis. Investasi untuk kesejahteraan disesuaikan dengan kebutuhan mereka dan dampaknya kami pantau secara berkala terhadap performa bisnis dan stabilitas SDM. Peningkatan eNPS (Employee Net Promoter Score) saja tidak cukup jika tidak diikuti perbaikan pada kinerja bisnis,” tambah Lisa.
Strategi seperti inilah yang pada akhirnya bisa menentukan perusahaan yang layak menyandang gelar tempat terbaik untuk bekerja. Evelyn Kwek, Managing Director Great Place To Work® ASEAN dan ANZ, menegaskan bahwa perusahaan yang masuk daftar Best Workplaces™ tidak sekadar mengeluarkan anggaran lebih besar untuk program kesejahteraan karyawan, tetapi menjadikannya sebagai strategi untuk membangun rasa aman secara psikologis, yang pada akhirnya melindungi kinerja perusahaan saat menghadapi tekanan.
Kwek, yang juga menjadi juri dalam daftar Fortune 100 Best Companies to Work For™ Asia Tenggara, melihat pola ini pada perusahaan-perusahaan berkinerja terbaik di kawasan. “Program kesejahteraan yang mahal sekalipun justru tidak akan efektif jika karyawan tidak merasa aman untuk menggunakannya. Data kami menunjukkan bahwa kuncinya ada pada membangun budaya yang terbuka. Kuncinya ada pada pemimpin yang benar-benar mendengarkan.”
Masuknya IOH dalam daftar perdana Fortune 100 Best Companies to Work For™ Southeast Asia membuktikan bahwa perusahaan Indonesia mampu bersaing di standar tertinggi budaya kerja regional. Apalagi daftar ini disusun melalui sebuah survey Trust Index™ milik Great Place To Work yang mengacu pada respon para karyawan yang bersifat rahasia, bukan atas upaya upaya perbaikan citra perusahaan atau employer branding.
Pemeringkatan di tingkat nasional maupun regional, seperti Best Workplaces in Indonesia™ dan Fortune 100 Best Companies to Work For™ Southeast Asia, menjadi acuan bagi perusahaan di Indonesia bahwa investasi pada program kesejahteraan yang dirancang sesuai kebutuhan karyawan—termasuk dalam menghadapi tekanan kerja—serta didukung hasil yang terukur terhadap kinerja bisnis, pada akhirnya akan memperkuat pengakuan perusahaan di tingkat yang lebih luas.






