Jakarta, 13 Februari 2026 – Status Indonesia yang sempat menempati peringkat pertama dunia dalam unggahan konten penyiksaan hewan menurut laporan SMACC 2021, gerakan masyarakat sipil muncul untuk membuat terobosan teknologi diperkenalkan untuk memutus rantai kekejaman tersebut. Gerakan Pawtective Siren resmi meluncurkan inovasi kalung beralarm pintar berbasis sensor detak jantung sebagai solusi preventif bagi anjing anjing liar yang rentan menjadi korban penyiksaan.
Langkah ini diambil menyusul kondisi kritis kapasitas shelter di kota kota besar yang telah melebihi batas. Dengan populasi anjing nasional yang diperkirakan mencapai 16 juta ekor menurut data One Health Roadmap Kemenkes RI, perlindungan fisik berupa penampungan saja dinilai tidak lagi mencukupi.
Jeremy Randolph, perwakilan gerakan Pawtective Siren dari Komunitas Hope for Strays, menegaskan bahwa pendekatan preventif berbasis teknologi dibutuhkan untuk menjangkau area yang selama ini luput dari pengawasan.
“Selama ini shelter dan relawan bekerja luar biasa keras, tetapi mereka lebih banyak menyelamatkan setelah kejadian. Sementara kekerasan sering terjadi di lokasi sepi atau malam hari tanpa saksi. Pawtective Siren kami rancang sebagai perlindungan langsung di lokasi, sebelum kekerasan itu menjadi fatal,” jelas Jerry.
Sains di Balik Pawtective Siren: Mendeteksi Trauma Secara Real Time
Inovasi ini mengadopsi teknologi smart health collar yang dirancang untuk membaca respons fisiologis anjing saat mengalami ketakutan ekstrem. Berdasarkan pengujian tim pengembang, detak jantung anjing dalam kondisi normal berada pada kisaran 70 sampai 120 detak per menit. Namun saat mengalami trauma atau ancaman serius, detaknya dapat melonjak hingga 130 sampai 250 detak per menit.
Dengan ambang batas 130 BPM sebagai indikator kondisi darurat, sistem akan secara otomatis mengaktifkan sirene berkekuatan 100 sampai 110 dB serta lampu LED berkedip berintensitas tinggi. Alarm ini dirancang untuk menarik perhatian publik dalam radius 100 sampai 300 meter di area terbuka, terutama pada malam hari.
Sistem Smart Off memastikan alarm berhenti otomatis saat detak jantung kembali stabil di bawah 120 BPM guna meminimalkan stres lanjutan pada hewan.
Menurutnya, akurasi sensor menjadi kunci utama agar perangkat tidak aktif secara keliru. “Kami tidak ingin alat ini berbunyi saat anjing hanya bermain atau berlari biasa. Karena itu pengujian dilakukan untuk memastikan lonjakan yang terdeteksi benar benar merepresentasikan kondisi panik atau ancaman serius,” ujarnya.

Aktivis: Perlindungan Hewan Butuh Pencegahan dan Kesadaran Publik
Aktivis perlindungan hewan Melanie Subono turut menyoroti bahwa persoalan kekerasan terhadap anjing jalanan tidak bisa hanya diselesaikan dengan regulasi atau kerja penyelamatan semata. “Relawan selama ini lebih banyak menyelamatkan setelah kejadian, bukan mencegah. Regulasi saja tidak cukup. Kita butuh kerja sama semua pihak, dari edukasi di rumah, media sosial, sampai pengawasan publik. Yang paling penting, masyarakat harus benar benar menyadari bahwa hewan itu juga makhluk hidup. Mereka bisa takut, bisa trauma, dan bisa kehilangan kepercayaan pada manusia,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi shelter yang overcapacity menjadi bukti bahwa pendekatan penampungan semata tidak akan pernah cukup jika akar masalahnya tidak disentuh. Jika hanya mengandalkan shelter, itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Pencegahan harus diperkuat, dan masyarakat luas juga perlu dijadikan target edukasi.
Implementasi dan Target Nasional
Pada fase awal, rencananya sebanyak 500 unit Pawtective Siren akan diproduksi dan dipasang pada anjing anjing liar di titik titik rawan Jakarta. Perangkat ini juga dilengkapi fitur GPS untuk membantu relawan memantau posisi dan kondisi perangkat secara berkala.
Jeremy menyebut gerakan ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari upaya membangun standar baru perlindungan hewan di Indonesia. “Lewat Pawtective Siren, kami ingin memastikan bahwa setiap tangisan ketakutan hewan tidak lagi berakhir dalam kesunyian. Ketika mereka terancam, publik bisa langsung tahu. Ini bukan sekadar aksesori, tetapi bentuk perlindungan nyata bagi mereka yang tidak bisa bicara,” jelasnya.
Melalui penggalangan dana dan kolaborasi lintas komunitas, gerakan ini menargetkan ekspansi ke berbagai kota lain di Indonesia dengan harapan membangun sistem perlindungan hewan yang lebih responsif dan berbasis partisipasi publik.






